Rabu, Oktober 29, 2008

METODE PENGAMBILAN SUMBER DAN RUJUKAN (I)

Oleh : Syamsul Hidayat

Pendahuluan

Salah satu aspek yang sangat penting bagi Muballigh Muhammadiyah dalam mempersiapkan materi dakwah dan tablighnya adalah bagaimana mengambil sumber-sumber dan rujukan materi dakwahnya. Ketidak siapan seorang Mubaligh akan materi dakwahnya akan berakibat fatal, bisa jadi materi dakwahnya menjadi tidak berbobot, atau bahkan kehabisan bahan ditengah dakwah dan tabligh.

Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, yang berintikan kepada al-ruju’ ila al-Quran wa al-Sunnah dan membersihkan diri dari praktek taqlid, takhayul, bid’ah dan khurafat, dan daki-daki penyimpangan pemahaman Islam, seperti sekularisasi, liberalisasi, dan paham pluralisme agama, menuntut para muballigh dan dainya untuk serius dalam mempersiapkan materi dakwah dan tabligh, yang sesuai dengan prinsip-prinsip pemahaman keagamaan dalam Muhammadiyah.

Oleh karena itu dalam tulisan ini, akan dipaparkan hal-hal berikut: (1) dasar-dasar metodologis “paham agama” dalam Muhammadiyah, (2) langkah pengambilan rujukan dakwah, (3) beberapa piranti pembantu dalam menggali rujukan dakwah.

A. Dasar-dasar Metodologis Paham Agama dalam Muhammadiyah

Sebagai Jam’iyah Diniyah, Muhammadiyah menempat-kan agama Islam dalam posisi dan fungsi sentral bagi lahir dan perkembangannya dalam hidup perjuangannya.

Adanya Muhammadiyah yang kemudian menjadi per-syarikatan yang beridentitas sebagai gerakan Islam, gerakan Dakwah Islam, dan amar makruf nahi munkar, dan gerakan tajdid adalah merupakan hasil pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam memahami agama Islam dan kemudian menghayati dan mengamalkannya.

Oleh karena itu, Islam bagi Muhammadiyah merupakan “sumber” inspirasi dan aspirasi, pusat orientasi, motivator, pengarah dan pedoman bagi hidup, kehidupan dan perjuangannya.[1]

Dasar-dasar metodologi dan pemikiran keagamaan dalam Muhammadiyah, dapat dilihat pada rumusan-rumusan putusan persyarikatan, seperti: Kitab Masalah Lima (al-masail al-khams), Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, yang semuanya itu merupakan pokok-pokok pemikiran ideologis gerakan Muhammadiyah.

1. Pengertian Agama

Prinsip pertama dalam mengenali paham agama dalam Muhammadiyah, mengenal rumusan Muhammadiyah tentang pengertiah agama, yakni agama Islam. Adapun pengertian agama Islam dalam Muhammadiyah, sebagaimana tertuang dalam kitab Al-Masail al-Khams (Masalah Lima), dibagi menjadi dua: pengertian agama Islam secara luas dan pengertian secara sempit (khusus).

Pengertian agama Islam dalam arti luas, ialah :

الدين هو ما شرعه الله من لسان أنبيائه من الأوامر والنواهى لصلاح العباد دنياهم وأخراهم

"Agama ialah apa yang disyariatkan Allah dalam perantaraan nabi-nabiNya, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akherat."[2]

Sedangkan pengertian agama Islam dalam arti sempit (khusus) ialah :

الدين أى الدين الاسلامى الذى جاء به محمد صلى الله عليه وسلم هو ما أنزله الله فى القران وما جاءت به السنة الصحيحة (أى السنة المقبولة) من الأوامر والنواهى لصلاح العباد دنياهم وأخراهم

Agama, yakni agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ialah apa-apa yang diturunkan Allah di dalam Al-Qur-an dan yang tersebut dalam sunnah ÎaÍiÍah, berupa perintah-perintah, larangan-larangan dan pe-tunjuk-petunjuk bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akherat.[3]

Dengan pengertian seperti ini, Muhammadiyah telah mengadakah koreksi terhadap pengertian agama Islam yang dipahami umum, agama Islam ialah agama yang dibawa oleh Muhammad Saw. sedangkan agama yang dibawa oleh nabi-nabi Allah yang lain dianggap bukan Islam, sehingga menamakan masa sebelum Muhammad sebagai “masa pra Islam”.

Agama Islam menurut pendirian Muhammadiyah adalah agama Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya sejak Adam A.s. hingga Muhammad Saw. Sedangkan Al Islam yang harus dipegangi sebagai aqidah dan syariah amaliyah oleh umat Islam pasca Muhammad ialah Islam yang telah disempurnakan oleh risalah Muhammad sebagai penutup para nabi dengan dua pedoman pokok, yaitu Al Qur-an dan Sunnah shahihah.

2. Prinsip-prinsip Pemahaman Agama

a. Dasar Agama Islam: Hubungan Akal dan Wahyu

Dalam naskah (matan) Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, ditegaskan bahwa dasar agama Islam ialah Al Quran, yakni kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw., dan As Sunnah, yakni penjelasan dan pelaksanaan ajaran Al Quran yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw. dengan menggunakan akal pikiran sesu-ai dengan jiwa ajaran Islam.[4]

Al Qur-an dan As Sunnah — sebagai penjela-sannya, adalah pokok dasar ajaran Islam yang me-ngandung ajaran yang benar dengan kebenaran yang mutlak dan universal. Tidak akan berubah-ubah sepanjang masa. Sedangkan ajaran Islam yang di rumuskan oleh manusia (ulama) sebagai hasil pemi-kirannya dalam memahami Al Qur-an dan Sunnah bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya secara ha-kiki, sehingga tidak memiliki kebenaran yang mutlak dan universal, melainkan nisbi.[5]

Sementara itu, akal pikiran/ra’yu adalah alat untuk :

1). Mengungkapkan dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam Al Qur-an dan Sunnah Rasul.

2). Mengetahui maksud-maksud yang tercakup dalam pengertian Al Qur-an dan Sunnah Rasul.

Sedangkan untuk mencari cara dan jalan melaksanakan ajaran Al Qur-an dan Sunnah Rasul dalam mengatur dunia dan memakmurkannya akal pikiran yang dinamis -progressif, murni dan jernih, mempunyai peranan penting dan lapangan yang luas. Akal pikiran dapat melihat raang dan waktu bagi penerapan ketentuan ajaran Islam dalam batas maksud-maksud pokok ajaran agama.[6]

Dengan demikian, Muhammadiyah berpendirian bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. Bahkan beragama Islam, menurut pendirian Muhammadiyah, harus berdasarkan pengertian yang benar, dengan menggunakan ijtihad atau setidak-tidaknya it-tiba.[7]

Dalam menetapkan ketentuan yang berkenaan de-ngan agama sebagai tuntunan, baik bagi perorangan maupun kehidupan persyarikatan, dilakukan dengan ijtihad jama’iy, bukan ijtihad fardy, yaitu musyawarah yang dilakukan oleh ahlinya (ulama) dengan menggunakan metode “tarjih”, yaitu membandingkan pendapat-pendapat dari hasil ijtihad yang berbeda-beda dilihat dari dalil dan alasannya yang dinilai paling rajih (kuat).[8]